Google sedang berdiskusi dengan Departemen Pertahanan AS untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diklasifikasikan, menandai pergeseran strategis menuju pasar militer dan pertahanan, menurut media IT Deinformation pada tanggal 17. Inisiatif ini merupakan perubahan dari sikap Google sebelumnya yang berhati-hati terhadap proyek militer, karena persaingan AI generatif berkembang melampaui sektor komersial ke ranah keamanan nasional.
Inti dari pembahasan berpusat pada pembangunan “tumpukan AI khusus militer” daripada sekadar menyediakan infrastruktur. Menurut sumber, Google akan menerapkan model bahasa besar (LLM) serta kemampuan analisis data di jaringan internal Departemen Pertahanan atau lingkungan cloud khusus untuk mendukung analisis intelijen, perencanaan operasional, dan bantuan pengambilan keputusan. Sistem yang diusulkan akan beroperasi dalam lingkungan “air-gapped” (network-isolated) yang mampu memproses data terklasifikasi tingkat Secret dan Top Secret—jauh melampaui kemampuan cloud komersial standar.
Pasar AI pertahanan menghadirkan peluang finansial yang besar. Departemen Pertahanan AS sudah berinvestasi miliaran dolar melalui berbagai kontrak cloud, termasuk Joint Warfighting Cloud Capability (JWCC), dengan proyeksi perluasan yang signifikan seiring adopsi AI generatif yang dipercepat. Jika negosiasi berhasil, Google akan secara resmi masuk ke persaingan anggaran AI pertahanan.
Persaingan di sektor ini sudah mapan. Microsoft telah mengamankan posisi dalam layanan cloud dan AI militer melalui platform Azure-nya, sementara Amazon menjalankan berbagai proyek untuk lembaga pertahanan dan intelijen menggunakan AWS. Pengamat industri mencatat bahwa masuknya Google kemungkinan akan mengubah pasar AI pertahanan AS menjadi “kompetisi tiga penjuru raksasa teknologi” di antara perusahaan-perusahaan tersebut.
Langkah ini merupakan perubahan kebijakan yang menonjol bagi Google. Pada 2018, perusahaan berpartisipasi dalam Project Maven, sebuah inisiatif analisis video drone militer, tetapi menarik diri setelah ada penolakan dari pihak internal. Setelah itu, Google mengadopsi prinsip etika AI yang secara eksplisit mengecualikan aplikasi militer. Namun, ketika persaingan AI generatif semakin intens dan nilai strategis pasar publik serta pertahanan meningkat, perusahaan sedang mempertimbangkan kembali posisinya.
Mengoperasikan sistem AI pada data terklasifikasi menghadirkan tantangan yang kompleks. Menurut sumber, kekhawatiran utama mencakup kewenangan kontrol model, kedaulatan data, dan tanggung jawab atas malfungsi sistem. Selain itu, penerapan militer AI dapat memunculkan kembali perdebatan etika internal di Google mengenai penggunaan teknologi yang tepat.
Seorang perwakilan industri yang dikutip dalam sumber mengatakan: “Inti dari pembahasan ini bukan sekadar sebuah kontrak, melainkan pertanyaan tentang siapa yang mengendalikan ‘infrastruktur AI yang mampu belajar dari data terklasifikasi.’ Perusahaan yang membangun tumpukan AI khusus militer akan memiliki posisi yang menguntungkan dalam persaingan AI global di masa depan.”
Apa itu AI terklasifikasi (Classified AI)? Menurut sumber, AI terklasifikasi mengacu pada sistem kecerdasan buatan yang beroperasi di lingkungan aman yang mampu memproses data tingkat Secret dan Top Secret, berbeda dengan sistem cloud komersial standar. Sistem tersebut akan diterapkan baik di lingkungan jaringan yang terisolasi atau sebagai model khusus yang disesuaikan untuk informasi terklasifikasi.
Apa bedanya dengan sikap proyek militer Google sebelumnya? Google menarik diri dari Project Maven pada 2018 karena penolakan internal dan selanjutnya mengadopsi prinsip etika AI yang mengecualikan aplikasi militer. Pembahasan saat ini merupakan pembalikan kebijakan yang didorong oleh persaingan AI generatif yang semakin intens dan meningkatnya pentingnya pasar pertahanan.
Siapa kompetitor Google di pasar ini? Microsoft dan Amazon sudah mapan dalam layanan AI pertahanan. Microsoft mengoperasikan layanan cloud dan AI militer melalui Azure, sementara Amazon mengelola berbagai proyek untuk pertahanan dan lembaga intelijen melalui AWS.