Pada akhir Januari 2026, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka panjang melonjak melewati 4%, menandai rekor tertinggi baru sejak Bank of Japan mengakhiri kebijakan pengendalian kurva imbal hasil. Gejolak di pasar obligasi ini dengan cepat merambat ke pasar kripto global, di mana Bitcoin sempat anjlok ke $75.500 dan memicu likuidasi posisi leverage senilai miliaran dolar. Volatilitas yang terjadi secara bersamaan antara pasar obligasi Tokyo dan pasar Bitcoin global menandakan bahwa era "uang gratis", yang selama ini didorong oleh pendanaan yen murah, mungkin sedang menuju akhir.
Akhir dari Era Uang Gratis
Yang disebut sebagai "era uang gratis" didefinisikan oleh kebijakan suku bunga ultra-rendah berkepanjangan dari Bank of Japan, yang memberikan akses pendanaan yen hampir tanpa biaya ke pasar global.
Selama beberapa dekade, para trader dapat meminjam yen dengan biaya minimal dan menginvestasikannya pada aset berimbal hasil lebih tinggi di seluruh dunia—mulai dari US Treasuries hingga aset kripto berisiko tinggi—sehingga memicu maraknya "yen carry trade". Kini, fondasi era ini mulai runtuh. Pada akhir Januari 2026, Bank of Japan mempertahankan suku bunga acuannya di sekitar 0,75%, namun memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Dilema kebijakan Jepang sangat jelas. Di satu sisi, utang pemerintah sangat besar, dengan pembayaran bunga utang mencapai sekitar 24,5% dari anggaran. Di sisi lain, perdana menteri baru lebih memilih pembiayaan defisit untuk mendukung kebijakan pertahanan dan industri. "Dominasi fiskal" seperti ini membatasi kemampuan bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara agresif, namun tidak dapat mencegah kekuatan pasar mendorong kenaikan imbal hasil jangka panjang.
Gejolak Pasar Obligasi Jepang Merambah ke Global
Tekanan di pasar obligasi Jepang sudah mulai terlihat. Lelang terbaru obligasi pemerintah Jepang tenor 20 tahun mencatat permintaan yang lemah dan rasio bid-to-cover yang rendah. Indikator likuiditas pasar melonjak ke rekor tertinggi, menandakan distorsi imbal hasil yang sangat besar di bawah tekanan. Repricing tajam pada obligasi jangka panjang—terutama ketika imbal hasil 40 tahun menembus 4%—kini membebani sistem lindung nilai global, neraca keuangan, dan batas risiko.
Sebagai pemain utama dalam keuangan global, institusi Jepang mendukung pasar obligasi luar negeri melalui pembelian di luar negeri dan lindung nilai mata uang. Jika aliran modal ini mulai kembali ke Jepang, likuiditas global akan mengetat. Dampaknya tidak hanya terbatas pada Jepang; kini pasar memandang aksi jual obligasi pemerintah Jepang jangka panjang sebagai peristiwa global.
Bitcoin dan Detak Likuiditas Global
Keterkaitan antara pasar obligasi Jepang dan Bitcoin terletak pada likuiditas dan leverage global. Bitcoin, sebagai aset dengan volatilitas tinggi, sering kali bereaksi pertama kali ketika likuiditas global mengetat. Meningkatnya volatilitas yen menaikkan biaya carry trade, membuatnya kurang menarik dan terkadang memaksa trader untuk menutup posisi. Likuidasi ini jarang hanya terjadi di pasar valuta asing, karena pendanaan dilakukan secara berlapis di berbagai pasar.
Saat terjadi deleveraging paksa, trader akan menjual aset apa pun yang mereka miliki—bukan hanya aset yang mereka prediksi turun. Karena pasar kripto sangat ter-leverage, biasanya reaksi yang muncul lebih awal dan lebih tajam dibandingkan pasar lain saat terjadi kepanikan.
Pergerakan pasar Bitcoin baru-baru ini menggambarkan dinamika ini. Setelah awal tahun yang volatil, Bitcoin sempat turun di bawah $7.000 pada 30 Januari. Berdasarkan data pasar Gate, per 2 Februari 2026, harga Bitcoin berada di kisaran $76.316,9, turun 3,15% dalam 24 jam terakhir.
Data Pasar Terkini dan Respons Investor
Berdasarkan data pasar Gate, berikut adalah sejumlah metrik utama Bitcoin terbaru:
| Kategori | Data | Catatan |
|---|---|---|
| Data Harga | Harga saat ini: $76.316,9 | Tertinggi 24 jam: $79.226,1 |
| Terendah 24 jam: $75.710,2 | Tertinggi sepanjang masa: $126.080 | |
| Perdagangan & Kapitalisasi Pasar | Volume 24 jam: $1,2M | Kapitalisasi pasar: $1,76T |
| Dominasi pasar: 56,29% | Kapitalisasi pasar terdilusi penuh: $1,76T | |
| Data Pasokan | Pasokan beredar: 19,98Juta BTC | Maksimum pasokan: 21Juta BTC |
| Total pasokan: 19,98Juta BTC |
Melihat ke depan, analisis data Gate memperkirakan harga rata-rata Bitcoin di 2026 akan berada di kisaran $87.941, dengan rentang harga antara $51.885,19 hingga $126.635,04. Pada 2031, Bitcoin diproyeksikan dapat mencapai $222.368,27, mencerminkan potensi return sekitar 76%. Proyeksi ini menunjukkan bahwa meski volatilitas jangka pendek masih terjadi, sebagian analis tetap optimis terhadap prospek jangka panjang.
Prospek dan Penyesuaian Strategi
Gejolak di pasar obligasi Jepang mungkin tidak sepenuhnya membubarkan carry trade, namun bahkan ketiadaan "ketenangan" saja sudah cukup memengaruhi Bitcoin. Ketika pergerakan yen bertepatan dengan lonjakan biaya lindung nilai jangka pendek dan imbal hasil obligasi Jepang jangka panjang mulai melonjak, banyak posisi global bisa terdampak secara bersamaan.
Investor perlu menyesuaikan strategi di lingkungan seperti ini. Arbitrase basis Bitcoin yang dulu dianggap "pasti untung" kini mulai kehilangan daya tarik, dengan spread yang menyempit hingga nyaris tidak menutupi biaya pendanaan dan eksekusi. Ini menandakan pasar yang semakin matang, di mana investor harus mencari strategi yang lebih canggih dan terukur.
Saat ini, institusi merekomendasikan alokasi portofolio sekitar 2% untuk Bitcoin. Beberapa ETF Bitcoin kini menjadi salah satu dana terbesar dan paling aktif diperdagangkan. Lembaga keuangan tradisional seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley pun telah terdaftar sebagai pemegang dana tersebut.
Fluktuasi tajam di pasar obligasi Jepang memaksa trader global untuk meninjau ulang satu asumsi utama: apakah "zaman keemasan carry", di mana yen dapat dipinjam hampir tanpa biaya untuk diinvestasikan ke aset berimbal hasil tinggi di seluruh dunia, benar-benar telah berakhir? Ketika imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun melonjak melewati 4%, jangkar suku bunga yang dulu stabil kini mulai goyah. Angka merah yang berkedip di layar perdagangan Tokyo hampir bersamaan dengan alarm likuidasi di bursa kripto global. Lebih dari $2,5 miliar posisi lenyap dalam hitungan jam, saat rantai leverage pasar yang rapuh terputus oleh volatilitas yen. Dengan Bank of Japan yang masih berjuang menyeimbangkan stimulus pertumbuhan dan pengendalian utang, arus likuiditas global pun mulai bergeser. Pasar kripto—khususnya Bitcoin yang sangat ter-leverage—kini menjadi termometer bagi repricing modal global, merasakan dinginnya pengetatan likuiditas lebih dulu.


