Ketika harga emas melonjak melewati $5.400 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan aksi "flight to safety", muncul narasi pasar yang tampak "berlawanan dengan intuisi": Bitcoin mungkin sedang diperdagangkan pada level yang secara historis undervalued dibandingkan emas. Perspektif ini melampaui sekadar perbandingan harga antara kedua aset—ia menyoroti persaingan mendalam antara keuangan tradisional (TradFi) dan pasar kripto terkait narasi "penyimpan nilai". Dalam artikel ini, kami akan menggunakan model kuantitatif untuk menguraikan logika di balik klaim tersebut, menelaah divergensi pasar, dan mengeksplorasi kemungkinan arah ke depan.
Bitcoin 66% Undervalued? Kisah di Balik Sinyal yang Berlawanan dengan Intuisi
Pada 1 Maret 2026, Samson Mow, CEO perusahaan teknologi Bitcoin Jan3, membagikan pandangannya di platform sosial X: Bitcoin, jika diukur terhadap kapitalisasi pasar emas dan suplai uang global, saat ini berada sekitar 24% hingga 66% di bawah garis tren jangka panjangnya, sementara emas menunjukkan tanda-tanda "overextension". Alat utama dalam analisis ini adalah model Z-score dari rasio Bitcoin terhadap emas. Per 2 Maret 2026, Z-score berada di sekitar -1,03—bukan pada titik terendah historis, namun sudah berada di wilayah negatif. Mow mencatat bahwa ketika Z-score rasio ini turun di bawah -2, biasanya menandakan reli besar Bitcoin dalam 12 bulan berikutnya.

Z-score rasio Bitcoin terhadap emas. Sumber: TradingView
Rekor Harga Emas vs. Bitcoin Tertekan: Mengapa Model Z-Score Kini Memberikan Peringatan?
Perdebatan ini berlangsung di tengah sensitivitas makro dan geopolitik yang meningkat.
Emas menembus lebih tinggi: Pada 2 Maret 2026, eskalasi ketegangan di Timur Tengah mendorong harga spot emas naik tajam saat pembukaan, sempat mendekati $5.380 per troy ounce, dengan harga futures emas bertahan di atas $5.247. Pembelian emas oleh bank sentral yang berkelanjutan (dengan net buying melebihi 1.100 ton pada 2025) serta tren de-dolarisasi global telah memberikan dukungan jangka panjang bagi harga emas.
Bitcoin tertekan: Sebaliknya, pasar kripto diguncang oleh ketidakpastian makro dan aksi jual risk-off. Berdasarkan data pasar Gate, per 2 Maret 2026, Bitcoin (BTC) diperdagangkan di $66.372,7, turun 1,90% dalam 24 jam dan hampir 50% dari rekor tertinggi sepanjang masa di $126.080.
Rangkaian peristiwa kunci:
- Maret 2020: Z-score rasio BTC/emas turun di bawah -2; Bitcoin mencapai titik terendah di sekitar $3.717 dan melonjak lebih dari 300% dalam 12 bulan berikutnya.
- November 2022: Kejatuhan FTX mendorong Z-score di bawah -3; Bitcoin rebound lebih dari 150% selama setahun berikutnya.
- Akhir Februari 2026: Emas mencapai rekor tertinggi baru, Z-score rasio BTC/emas menyentuh -1,24, dan perbedaan valuasi kembali mencuat.
Apa Arti Z-Score -1,03? Backtesting Historis Mengungkap "Zona Beli"
Argumen ini berakar bukan pada sentimen, melainkan pada pemodelan kuantitatif statistik.
Dasar model Z-score: Z-score mengukur berapa banyak standar deviasi suatu data dari rata-ratanya. Dalam analisis rasio BTC/emas, Z-score 0 berarti rasio saat ini sama dengan rata-rata historis; nilai negatif menunjukkan Bitcoin undervalued dibandingkan emas.
- Pembacaan saat ini: -1,03, menandakan Bitcoin diperdagangkan di bawah norma historisnya terhadap emas, meski belum masuk "zona undervalued dalam" (di bawah -2).
- Pemicu historis: Model ini menunjukkan bahwa saat Z-score turun di bawah -2, biasanya mendahului pembalikan tren yang kuat. Setelah crash COVID tahun 2020 dan kejatuhan FTX tahun 2022, Bitcoin masing-masing reli 300% dan 150%.
Mengukur gap nilai: Rentang undervaluasi 24% hingga 66% versi Samson Mow dihitung dengan membandingkan kapitalisasi pasar Bitcoin terhadap emas dan garis tren jangka panjang suplai uang global M2. Ketika harga emas melonjak tajam dalam jangka pendek—seperti saat krisis geopolitik baru-baru ini—sementara harga Bitcoin stagnan atau mundur, gap tren ini melebar secara dramatis.
Bullish vs. Bearish: Pandangan Institusi Bertabrakan
Terdapat perbedaan jelas di pasar terkait gagasan bahwa "Bitcoin undervalued dibandingkan emas".
Kelompok bullish (berbasis model):
Kelompok ini mengandalkan model kuantitatif, berargumen bahwa deviasi valuasi ekstrem menciptakan kekuatan mean-reversion yang kuat. Mereka mengutip data historis bahwa membeli saat Z-score sangat negatif sering menangkap tren 12 bulan berikutnya. Dalam pandangan mereka, "overextension" emas bukanlah negatif bagi Bitcoin; justru dapat mendorong rotasi modal dari safe haven tradisional (TradFi) ke aset kripto.
Kelompok bearish (berbasis makro):
Analis lain memperingatkan bahwa struktur pasar telah berubah. Beberapa menyebut aksi harga Bitcoin mungkin mengulangi pola bear market tahun 2022. Jika risiko geopolitik menyebabkan pengetatan likuiditas berkepanjangan, Bitcoin bisa turun ke $50.000. Data on-chain juga menunjukkan jika Bitcoin jatuh di bawah support kunci $63.111, "vakum permintaan" di bawahnya dapat mempercepat penurunan lebih lanjut.
Sentimen yang terpecah: Emosi pasar berayun ke ketakutan ekstrem (Crypto Fear & Greed Index baru-baru ini mencapai titik terendah), dan baik ritel maupun sebagian institusi bingung mengenai apa yang tergolong "safe haven" versus "risk asset". Emas dikejar sebagai aset aman tradisional, sementara Bitcoin dijual sebagai aset berisiko di fase awal konflik.
Dari "Safe Haven" ke "Emas Digital": Apakah Narasi Mulai Runtuh?
Saat menilai cerita "Bitcoin undervalued dibandingkan emas", penting memisahkan fakta, opini, dan spekulasi.
- Fakta: Z-score rasio BTC/emas memang negatif, berdasarkan data harga historis. Emas juga baru saja mencetak rekor tertinggi nominal baru.
- Opini: Samson Mow menafsirkan undervaluasi ini sebagai "potensi sinyal beli", mengacu pada pola historis—ini adalah penilaian pribadinya.
- Spekulasi: Gagasan bahwa modal akan berotasi dari "emas ke Bitcoin" masih bersifat spekulatif. Pada tahap awal krisis geopolitik, modal tetap mengalir pertama ke aset dengan kepercayaan berabad-abad, seperti emas dan dolar AS. Narasi "emas digital" Bitcoin belum sepenuhnya membuktikan ketahanan safe haven di bawah tekanan ekstrem.
Apa Langkah Selanjutnya untuk Modal TradFi? Meninjau Ulang Narasi Komoditas
Makna lebih dalam dari debat ini terletak pada potensinya mengubah cara institusi TradFi mengalokasikan aset.
Mendefinisikan ulang status komoditas: Emas adalah komoditas arketipal, dengan pasar spot dan futures yang matang. Bitcoin kerap disebut "komoditas digital". Jika rasio BTC/emas terus turun lalu rebound tajam, hal ini dapat memperkuat status Bitcoin sebagai "aset cadangan alternatif" yang berbeda dari saham dan obligasi.
Menarik modal TradFi: Bagi manajer dana tradisional, arbitrase statistik dan mean reversion adalah strategi inti. Jika tesis "Bitcoin undervalued dibandingkan emas" semakin populer melalui model kuantitatif, hal ini dapat mendorong modal TradFi mengejar "arbitrase valuasi" lewat ETF dan kanal compliant lainnya, membawa likuiditas baru yang signifikan ke pasar kripto.
Dampak bagi bursa: Diskusi mendalam seperti ini meningkatkan kecanggihan pasar dan menarik lebih banyak trader yang mencari peluang dengan keyakinan tinggi. Pengguna Gate yang memahami model-model ini bisa memperoleh wawasan lebih jelas tentang posisi struktural pasar saat ini.
Tiga Skenario: Mean Reversion, Krisis "Double Whammy", atau Pergeseran Struktur?
Berdasarkan data dan struktur pasar saat ini, ada tiga skenario kemungkinan ke depan:
Skenario 1: Mean Reversion
Jika kondisi makro stabil, modal institusi bisa memanfaatkan "kantong nilai" yang jelas ini. Saat Z-score pulih dari -1,24 menuju nol, kinerja Bitcoin relatif terhadap emas seharusnya menguat. Hal ini tidak mengharuskan emas turun—cukup jika Bitcoin melampaui kenaikan emas.
Skenario 2: Krisis Mendalam, Memicu "Double Whammy"
Jika konflik geopolitik semakin parah dan memicu krisis likuiditas global, seluruh aset berisiko—termasuk Bitcoin—bisa mengalami aksi jual indiscriminatif. Z-score rasio BTC/emas dapat turun di bawah -2 atau bahkan -3, masuk zona undervaluasi ekstrem. Meski membawa rasa sakit jangka pendek, sejarah menunjukkan hal ini juga bisa menjadi fondasi bull market besar berikutnya.
Skenario 3: Pergeseran Rezim Struktur
Jika Bitcoin gagal merebut kembali posisi terhadap emas di siklus ini—atau tetap lemah meski emas mundur—hal ini akan sangat merusak narasi jangka panjang "emas digital". Dalam skenario ini, aset kripto bisa dinilai ulang sebagai "aset berisiko high-beta murni", kehilangan seluruh premium "quasi-safe haven".
Kesimpulan
Entah itu gap nilai 24% atau Z-score -1,24, semua hanyalah snapshot dari pasar yang kompleks. Data menunjukkan Bitcoin diperdagangkan pada level yang secara historis murah dibandingkan emas, namun tidak memberikan peta jalan untuk reli lurus. Di pasar tempat narasi dan realitas bertabrakan, data menjadi peta objektif bagi trader—bukan bola kristal untuk meramal masa depan. Bagi pengguna Gate, memahami cara kerja model-model ini bisa jadi lebih berharga daripada sekadar bertaruh pada arah pergerakan.


