Draf Terbaru CLARITY Act: Melarang Pendapatan yang Hanya Diperoleh dari Menyimpan Stablecoin

Pasar
Diperbarui: 2026-03-24 09:42

Teka-teki kerangka regulasi komprehensif untuk industri kripto di Amerika Serikat semakin mendekati penyelesaian. Setelah disahkannya GENIUS Act sebagai undang-undang federal pertama yang secara khusus mengatur stablecoin, kini Rancangan Undang-Undang Digital Asset Market Clarity Act yang sangat dinantikan (selanjutnya disebut sebagai CLARITY Act) sedang memasuki tahap akhir negosiasi legislatif. Pada Maret 2026, muncul draf ketentuan baru terkait imbal hasil stablecoin, dengan inti utamanya—larangan memperoleh imbal hasil hanya dengan memegang stablecoin—segera menjadi pusat perhatian pasar. Ketentuan ini bukan sekadar penyesuaian teknis; ia mencerminkan konflik kepentingan yang mendalam dan kompromi regulasi antara perbankan tradisional dan inovasi kripto. Artikel ini merangkum teks draf terbaru dan respons industri untuk menguraikan rangkaian peristiwa, menganalisis sudut pandang para pemangku kepentingan, serta memproyeksikan potensi dampak ketentuan ini terhadap lanskap masa depan pasar stablecoin.

Asal-Usul dan Esensi Larangan Imbal Hasil

Pada 24 Maret 2026, sejumlah media melaporkan bahwa versi revisi Digital Asset Market Clarity Act dari Senat AS mencantumkan ketentuan baru terkait imbal hasil stablecoin, yang untuk pertama kalinya diungkapkan kepada pelaku industri kripto. Senator Angela Alsobrooks dan Thom Tillis memperkenalkan ketentuan tersebut pada Jumat sebelumnya. Pokok aturannya: memperoleh imbal hasil hanya karena memegang stablecoin dilarang, dan segala praktik yang menyamakan program stablecoin dengan simpanan bank dibatasi.


CLARITY Act. Sumber: Kongres AS

Ketentuan ini dipandang sebagai "solusi kompromi" hasil dari pertarungan lobi antara sektor kripto dan perbankan. Industri perbankan menegaskan bahwa imbal hasil stablecoin (seperti bunga atau reward) tidak boleh menyerupai simpanan berbunga di bank, karena khawatir produk semacam itu dapat memicu arus keluar dana besar-besaran dari simpanan bank dan menekan aktivitas pinjaman. Kompromi yang diambil memperbolehkan program reward berbasis "aktivitas" pengguna (seperti transaksi atau penggunaan), namun secara tegas melarang imbal hasil pasif berbasis "saldo." Saat ini, mekanisme untuk mendefinisikan "reward stablecoin berbasis aktivitas" masih belum jelas, dan ketidakpastian ini menimbulkan kekhawatiran akan pembatasan inovasi.

Dari GENIUS Act ke CLARITY Act: Kilas Balik Legislasi

Untuk memahami polemik seputar draf ini, penting untuk melihat kembali proses legislasi kripto di Amerika Serikat secara lebih luas.

Linimasa Peristiwa Kunci Signifikansi Inti
2025 GENIUS Act disahkan menjadi undang-undang Kerangka regulasi stablecoin tingkat federal pertama di AS, memperjelas aturan penerbitan dan cadangan. Dianggap sebagai "langkah awal" dalam legislasi kripto.
2025 DPR mengesahkan versi serupa CLARITY Act RUU struktur pasar ini melaju di DPR, bertujuan memberikan jalur regulasi komprehensif untuk seluruh pasar aset digital—bukan hanya stablecoin.
Januari 2026 Progres RUU terhenti Proses legislatif di Senat terhambat karena perbedaan pandangan soal distribusi imbal hasil stablecoin, regulasi DeFi, dan konflik kepentingan pejabat.
Maret 2026 Sektor perbankan dan kripto capai "kesepakatan prinsip" Senator Tillis dan Alsobrooks mencapai kesepakatan prinsip terkait imbal hasil stablecoin, mengatasi hambatan utama bagi kelanjutan RUU.
24 Maret 2026 Draf ketentuan diungkap ke industri Profesional kripto menelaah teks draf dalam pertemuan tertutup, mengonfirmasi ketentuan baru yang melarang imbal hasil stablecoin berbasis saldo.

Linimasa ini menunjukkan dengan jelas bahwa isu imbal hasil stablecoin secara konsisten menjadi salah satu "penghambat utama" dalam pengesahan CLARITY Act. Di bawah tekanan lobi perbankan, para legislator memilih untuk "memisahkan" imbal hasil pasif dari reward aktif, sehingga mendapatkan dukungan industri perbankan terhadap kerangka regulasi secara keseluruhan.

Analisis Ketentuan: Batas Antara Imbal Hasil Pasif dan Reward Aktivitas

Ketentuan baru ini berfokus pada pembedaan dua model imbal hasil berikut:

Model Dilarang: Imbal Hasil Pasif Berbasis Saldo

  • Definisi: Imbal hasil yang diperoleh hanya dengan memegang stablecoin, tanpa memperhatikan penggunaan atau transaksi. Model ini sangat mirip dengan bunga simpanan di bank tradisional.
  • Alasan (Sudut Pandang Perbankan): Model ini menjadikan stablecoin sebagai pesaing langsung simpanan giro bank, yang berpotensi melemahkan kemampuan bank menarik dana dan pada akhirnya memengaruhi kapasitas pemberian kredit.

Model Diperbolehkan: Reward Berbasis Aktivitas

  • Definisi: Reward yang diperoleh dengan melakukan aksi tertentu—seperti bertransaksi, menggunakan aplikasi terkait, atau menyelesaikan tugas tertentu.
  • Alasan (Solusi Kompromi): Model ini dikategorikan sebagai "reward penggunaan" dan bukan "bunga atas kepemilikan," sehingga menghindari perbandingan langsung dengan simpanan bank. Namun, draf belum menjelaskan aktivitas apa saja yang memenuhi syarat, sehingga menimbulkan ruang interpretasi yang luas.

Pembedaan struktural ini pada dasarnya memisahkan "imbal hasil modal" (yield yang dihasilkan oleh modal itu sendiri) dari "imbal hasil tenaga kerja" (insentif yang dihasilkan dari perilaku penggunaan) secara hukum. Bagi penerbit stablecoin, hal ini berarti perubahan fundamental dalam desain produk—dari "dapat imbal hasil dengan memegang" menjadi "dapat imbal hasil dengan menggunakan."

Perebutan Pengaruh: Sektor Perbankan, Industri Kripto, dan Legislator

Para pemangku kepentingan memberikan respons yang sangat tegas terhadap ketentuan draf ini.

Pandangan Industri Kripto (Kekhawatiran Utama)

Industri secara umum menilai ketentuan ini "terlalu sempit dan tidak cukup jelas." Pelaku industri khawatir definisi "reward berbasis aktivitas" yang samar akan membatasi inovasi, sehingga banyak model bisnis potensial (seperti protokol yang membagi hasil cadangan secara adil kepada seluruh pemegang) berisiko secara hukum. Mereka menginginkan pendekatan regulasi yang jelas membedakan antara "simpanan berbunga" dan "perjanjian berbagi imbal hasil," namun kompromi saat ini justru berpotensi menghambat keduanya.

Pandangan Sektor Perbankan (Tuntutan Inti)

Sektor perbankan menjadi penggerak utama di balik ketentuan ini. Alasan utama mereka adalah mencegah "pelarian dana simpanan." Mereka berpendapat bahwa jika stablecoin menawarkan imbal hasil pasif seperti simpanan, hal ini menciptakan "arbitrase regulasi"—menyediakan layanan keuangan serupa tanpa tunduk pada asuransi simpanan, persyaratan cadangan, atau regulasi perbankan tradisional lainnya, sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat bagi bank.

Pandangan Legislator (Mencari Keseimbangan)

Senator yang memimpin kesepakatan menekankan bahwa ketentuan ini bertujuan "melindungi inovasi" sekaligus "mencegah arus keluar simpanan besar-besaran." Ini adalah upaya mencari titik tengah secara politis. Dengan melarang imbal hasil pasif, legislator menjawab kekhawatiran perbankan; dengan tetap membuka kemungkinan reward aktivitas, mereka memberi ruang bagi inovasi kripto. Apakah keseimbangan ini dapat tercapai secara nyata sangat bergantung pada detail regulasi di masa mendatang.

Memahami Kepastian Draf

  • Ketentuan draf memang ada, dan teksnya secara eksplisit melarang "memperoleh imbal hasil hanya dengan memegang stablecoin." Lobi perbankan benar-benar mengangkat isu ini. Senator Tillis dan Alsobrooks secara terbuka mendorong ketentuan ini.
  • Kekhawatiran sektor perbankan akan "arus keluar simpanan besar-besaran" memang memiliki dasar logis, namun skala dan kepastiannya masih diperdebatkan. Patrick Witt, Direktur Eksekutif White House Digital Asset Advisory Council, mencatat bahwa kekhawatiran tersebut mungkin berlebihan, karena melegalkan stablecoin berbunga justru bisa menarik lebih banyak modal masuk ke sistem perbankan AS.
  • Definisi "reward berbasis aktivitas" masih belum jelas. Peran SEC, CFTC, dan pengadilan dalam menafsirkan "aktivitas" di masa depan akan menambah ketidakpastian yang signifikan.

Perubahan Pasar: Potensi Pergeseran dalam Ekosistem Stablecoin

Jika ketentuan ini akhirnya diberlakukan, akan ada dampak struktural terhadap stablecoin dan industri kripto secara lebih luas.

Perubahan Paradigma Desain Produk Stablecoin

Penerbit stablecoin akan dipaksa meninjau ulang proposisi nilai mereka. Model "dapat imbal hasil dengan memegang" yang sebelumnya populer (misal, membagikan hasil obligasi pemerintah kepada pemegang) akan menghadapi hambatan hukum. Industri akan bergeser ke model "dapat imbal hasil dengan menggunakan," mendorong pengguna untuk berpartisipasi dalam aktivitas on-chain, pembayaran, peminjaman, dan perilaku lain melalui mekanisme insentif.

Pemisahan antara Stablecoin Terpusat dan Terdesentralisasi

Karena tekanan lobi perbankan, ketentuan ini terutama menyasar stablecoin yang diterbitkan oleh entitas terpusat. Bagaimana stablecoin terdesentralisasi (misal, stablecoin algoritmik berbasis over-collateralization) akan diatur masih menjadi tanda tanya. Hal ini bisa mendorong modal dan sumber daya pengembangan bermigrasi ke sektor terdesentralisasi yang aturannya belum jelas.

Potensi Perubahan Struktur Pasar

Penerbit stablecoin besar yang patuh regulasi (seperti Circle dan Paxos) memiliki kapasitas untuk segera menyesuaikan struktur produk mereka dengan aturan baru. Proyek-proyek kecil atau yang mengandalkan "imbal hasil kepemilikan" sebagai nilai utama bisa kehilangan pengguna, bahkan menghadapi ancaman eksistensial, sehingga memperkuat posisi pasar stablecoin terkemuka.

Dampak terhadap Bursa Kripto

Bagi platform perdagangan, dampaknya dua arah: pertama, platform yang menawarkan produk imbal hasil stablecoin (seperti produk pendapatan tetap) harus meninjau ulang kepatuhan mereka; kedua, alokasi aset pengguna bisa bergeser, dengan motivasi memegang stablecoin berubah dari mengejar imbal hasil pasif menjadi mencari peluang investasi aktif yang lebih beragam, yang berpotensi mendorong peningkatan aktivitas perdagangan.

Tiga Skenario ke Depan: Arah RUU dan Respons Industri

Arah akhir CLARITY Act dan implementasi ketentuannya dapat berkembang dalam beberapa skenario berikut:

Skenario 1: RUU Disahkan Mulus, Ketentuan Diterapkan Ketat

Dalam skenario ini, pasar stablecoin akan cepat berinovasi pada produk mereka. Penerbit akan fokus mengembangkan mekanisme reward berbasis volume transaksi, interaksi on-chain, dan metrik serupa. Sistem perbankan mendapatkan "penyangga," sehingga tekanan arus keluar simpanan jangka pendek berkurang. Namun, dalam jangka panjang, pengguna kripto bisa memindahkan aset ke pasar luar negeri yang aturannya lebih longgar atau ke protokol DeFi yang menawarkan "imbal hasil pasif," sehingga sebagian likuiditas berpindah ke luar sistem resmi.

Skenario 2: RUU Disahkan, namun Ketentuan Ditafsirkan Secara Luas

Jika RUU final mendefinisikan "reward berbasis aktivitas" secara longgar, industri bisa menggunakan desain teknis untuk mengemas ulang "imbal hasil pasif" menjadi "reward aktivitas." Misalnya, "memegang" bisa didefinisikan sebagai "aktivitas energi rendah yang menjaga keamanan jaringan." Ini akan memicu babak baru perdebatan regulasi dan kepatuhan, mungkin berujung pada gugatan hukum atau panduan tambahan dari regulator.

Skenario 3: RUU Mandek, Regulasi DeFi Jadi Fokus Baru

Kontroversi atas ketentuan imbal hasil stablecoin mungkin hanyalah puncak gunung es. Legislator dari Partai Demokrat bersikeras menambahkan klausul pelarangan pejabat pemerintah mengambil keuntungan dari industri kripto (menyasar Presiden Trump), serta perdebatan kerangka regulasi DeFi, yang dapat semakin menghambat RUU. Jika legislasi berlarut-larut, pasar akan terus beroperasi dalam ketidakpastian regulasi, sehingga menghambat masuknya modal institusi dalam skala besar.

Kesimpulan

Draf terbaru ketentuan imbal hasil stablecoin dalam CLARITY Act merangkum pertarungan sengit antara industri kripto dan sistem keuangan tradisional di Amerika Serikat. Ketentuan ini menyoroti dilema inti regulasi: bagaimana mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas dan keadilan sistem keuangan yang ada. Meski "solusi kompromi" saat ini mempertegas batasan bagi sektor kripto, ia juga menandai komitmen legislator untuk mengakhiri ketidakpastian regulasi yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Bagi pelaku pasar, ini adalah tantangan sekaligus sinyal yang jelas: ekosistem stablecoin masa depan harus mengubah logika penciptaan nilainya dari "memegang pasif" menjadi "berpartisipasi aktif." Seiring proses legislasi berjalan dan perdebatan seputar DeFi serta konflik kepentingan pejabat terus berkembang, kontur regulasi kripto AS semakin jelas. Sampai aturan benar-benar ditetapkan, industri harus mencermati evolusi ketentuan ini dan siap membangun model bisnis yang lebih tangguh dan siap regulasi di bawah kerangka baru.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten