Meninjau Pergerakan Harga Minyak Brent Sejak April 2026: Naik Turun Bak Rollercoaster
Sejak April 2026, harga minyak mentah Brent mengalami fluktuasi tajam—layaknya perjalanan rollercoaster. Pada 2 April, harga spot Brent melonjak hingga USD 141,37 per barel, menandai level tertinggi sejak 2008. Di awal April, kontrak berjangka Brent sempat menembus USD 109 sebelum memasuki fase koreksi.
Per akhir pekan yang berakhir 17 April, kontrak berjangka Brent ditutup pada USD 90,38 per barel, turun 5,06% dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka WTI berakhir di USD 82,59 per barel, mencatat penurunan mingguan sebesar 14,48%. Pekan ini, kabar penutupan kembali Selat Hormuz memicu lonjakan tajam harga minyak saat pembukaan pasar. Menurut Direktur Riset Energi dan Kimia Everbright Futures, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berada di level rendah, yakni 2,1 juta barel per hari. Pasar terus bereaksi sangat sensitif terhadap setiap sinyal geopolitik.
Dari perspektif penawaran dan permintaan yang lebih luas, laporan bulanan IEA terbaru menunjukkan pasokan minyak global turun sebesar 10,1 juta barel per hari pada Maret—penurunan 9%. Persediaan minyak global yang terlihat telah berkurang sebanyak 212 juta barel sejak pecahnya konflik, setara dengan 46% dari total akumulasi stok sepanjang 2025. Kesenjangan antara pasokan dan permintaan serta penarikan persediaan yang berkelanjutan bersama-sama menopang harga minyak yang tinggi.
Faktor Utama Penggerak Harga Minyak Brent
1. Geopolitik: Selat Hormuz sebagai Variabel Tak Terduga Terbesar
"Master switch" utama harga minyak saat ini tak lain adalah status Selat Hormuz. Titik krusial ini menangani sekitar 20% pengiriman minyak global dan belakangan mengalami siklus "buka-tutup" berulang. Di awal April, Iran sempat membuka kembali selat ini, sehingga harga minyak anjlok tajam. Namun, Iran segera menutupnya lagi dengan alasan "AS tidak mengizinkan kebebasan penuh pelayaran kapal," yang memicu lonjakan harga.
Akibat pembatasan ini, ekspor minyak mentah dan kondensat dari negara-negara Teluk turun drastis dari sekitar 19 juta barel per hari menjadi sekitar 8 juta barel per hari, dengan ekspor produk olahan juga merosot tajam. Total produksi minyak mentah OPEC pada Maret turun 7,88 juta barel per hari dari Februari, menjadi 20,79 juta barel—penurunan 27% yang merupakan rekor.
Sebagian besar analis sepakat bahwa titik balik harga minyak sesungguhnya bergantung pada hasil negosiasi AS-Iran dan status navigasi nyata di Selat Hormuz.
2. Kenaikan Produksi OPEC+: Lebih Bersifat Simbolis daripada Substansial
Pada 5 April, delapan negara produsen minyak utama—termasuk Arab Saudi dan Rusia—mengumumkan kenaikan produksi kolektif sebesar 206.000 barel per hari mulai Mei, melanjutkan pelonggaran bertahap pemangkasan sukarela. Namun, mengingat gangguan pasokan harian global yang melebihi 10 juta barel, kenaikan ini hanya ibarat setetes air di lautan. Data IEA menunjukkan, meskipun tambahan pasokan ini terealisasi, hanya mampu menutup sekitar 1,2% dari kesenjangan pasokan.
Banyak lembaga masih meragukan efektivitas kenaikan produksi ini. Para ekonom secara luas meyakini bahwa sekadar menambah output tidak dapat mengatasi kekurangan pasokan fisik akibat hambatan logistik—minyak mentah bisa saja menumpuk di sekitar pelabuhan tanpa masuk ke sistem pengiriman internasional.
3. Sisi Permintaan: Prospek Tertekan namun Tetap Kokoh
Dari sisi permintaan, OPEC menurunkan proyeksi permintaan kuartal II 2026 sebesar 500.000 barel per hari, namun tetap mempertahankan estimasi pertumbuhan permintaan harian rata-rata tahunan di angka 1,38 juta barel. Sementara itu, aktivitas kilang global anjlok tajam, dengan volume pengolahan mencatat penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Pasar produk olahan—khususnya solar dan avtur—masih ketat.
4. Proyeksi Harga Minyak dari Lembaga Besar
- UBS Wealth Management: Menaikkan target Brent menjadi USD 100 per barel pada akhir Juni, USD 95 pada akhir September, dan USD 90 pada akhir tahun.
- JPMorgan: Memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga pertengahan Mei, harga minyak bisa menembus USD 150 per barel.
- Goldman Sachs: Memproyeksikan harga rata-rata Brent sebesar USD 85 untuk 2026, dengan harga kuartal II bisa mencapai USD 110.
- Société Générale: Memperkirakan kesenjangan pasokan yang signifikan dan telah menaikkan proyeksi Brent menjadi USD 80 per barel.
Secara keseluruhan, harga Brent diperkirakan tetap sangat fluktuatif di level tinggi dalam jangka pendek. Tren menengah hingga panjang akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan kecepatan pemulihan pasokan.
Cara Trading Minyak Brent di Gate TradFi
Apa Itu Gate TradFi?
Gate TradFi adalah modul trading multi-aset yang diluncurkan oleh Gate, mendukung perdagangan CFD (Contracts for Difference) atas aset keuangan tradisional seperti emas, minyak mentah, forex, dan indeks saham global. Pengguna tidak perlu membuka akun broker tradisional—cukup dengan satu akun Gate, Anda dapat mengelola aset kripto dan keuangan tradisional secara bersamaan.
Produk Minyak Mentah yang Didukung
Gate TradFi saat ini menawarkan perdagangan CFD untuk dua tolok ukur utama minyak mentah:
- Brent Crude (XBR/USD): Diproduksi di Laut Utara, Brent menjadi acuan harga bagi sekitar dua pertiga perdagangan minyak global dan lebih sensitif terhadap faktor geopolitik internasional.
- US Crude (XTI/USD): Utamanya diproduksi di Amerika Serikat, mencerminkan dinamika penawaran dan permintaan di pasar Amerika Utara.
Mengapa Trading Minyak di Gate TradFi?
- Akun Terpadu, Manajemen Satu Pintu: Satu akun Gate memungkinkan Anda menggunakan USDT sebagai margin terpadu untuk trading aset kripto maupun keuangan tradisional.
- Trading 24/7 Tanpa Henti: Perdagangan berlangsung tanpa batasan jam bursa tradisional. Anda dapat membuka atau menutup posisi kapan saja, bahkan saat peristiwa geopolitik terjadi di akhir pekan atau di luar jam pasar.
- Leverage Fleksibel: Trading minyak mendukung leverage yang dapat diatur mulai dari 20x hingga 500x, memungkinkan pengguna menyesuaikan eksposur risiko.
- Strategi Long dan Short: Baik Anda optimis maupun pesimis terhadap Brent, Anda dapat trading dua arah, memberikan lebih banyak opsi strategis dalam pengelolaan portofolio.
Langkah-Langkah Trading
- Buka Akun TradFi: Masuk ke akun Gate Anda, navigasikan ke bagian "TradFi" atau "Traditional Finance" pada antarmuka trading, lalu ikuti petunjuk untuk membuka sub-akun TradFi.
- Transfer Dana: Pindahkan USDT dari akun spot ke akun TradFi sebagai margin. Saldo akan ditampilkan sebagai USDx, dipatok 1:1 terhadap USDT.
- Pilih Produk Trading: Pada bagian komoditas di antarmuka trading TradFi, temukan Brent Crude (XBR/USD).
- Atur Leverage dan Tempatkan Order: Pilih leverage sesuai toleransi risiko Anda, masukkan ukuran posisi, lalu pilih order pasar atau limit untuk menyelesaikan transaksi.
Tips Manajemen Risiko
Mengingat volatilitas tinggi Brent saat ini, investor disarankan untuk menetapkan level stop-loss dan take-profit yang wajar serta memilih leverage secara bijak sesuai profil risiko. Sistem leverage bertingkat di Gate TradFi memungkinkan investor memperbesar potensi imbal hasil saat tren pasar jelas, sekaligus mengelola eksposur risiko secara efektif di tengah volatilitas yang meningkat.
Kesimpulan
Aksi harga Brent belakangan ini sangat bergantung pada status Selat Hormuz, dengan faktor geopolitik tetap menjadi penggerak harga utama. Kenaikan produksi OPEC+ yang terbatas belum mampu menutup kesenjangan pasokan, dan persediaan global terus menipis. Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan tetap bergejolak di level tinggi. Proyeksi Brent dari lembaga-lembaga besar untuk kuartal II cukup bervariasi, mulai dari USD 90 hingga USD 110 per barel.
Bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam siklus pasar ini, Gate TradFi menawarkan saluran praktis untuk trading CFD Brent. Dengan akun terpadu, trading 24/7, leverage fleksibel, serta opsi long dan short, investor kripto dapat melakukan diversifikasi portofolio lintas pasar dalam satu platform. Baik Anda ingin memanfaatkan volatilitas jangka pendek yang dipicu faktor geopolitik maupun menjalankan strategi lindung nilai menengah-panjang, Brent tetap menjadi aset inti yang patut mendapat perhatian.


